www.bangsanews.id – Kepri, atau Kepulauan Riau, kembali mencatatkan data inflasi yang menarik perhatian. Berdasarkan laporan resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi indeks harga konsumen di wilayah ini mengalami kenaikan yang menunjukkan dinamika ekonomi yang patut diperhatikan.
Data terbaru pada Agustus 2025 menunjukkan inflasi sebesar 0,18% (month-to-month), yang sedikit lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 0,19%. Sementara itu, jika melihat data tahunan, inflasi Kepri mencapai 2,19% (year-on-year), ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang berada di angka 1,97%.
Kenaikan ini terpantau terjadi di tiga kabupaten/kota dalam jangkauan inflasi, yaitu Batam, Tanjungpinang, dan Karimun. Masing-masing daerah tersebut mencatat inflasi sebesar 0,08% (mtm) untuk Batam, 0,26% (mtm) untuk Tanjungpinang, dan 1,03% (mtm) untuk Karimun.
Inflasi Kepri dan Posisi di Sumatera
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, menginformasikan bahwa dengan angka tersebut, Kepri berada di posisi keempat terendah dalam inflasi tahunan di Sumatera. Hanya daerah Lampung, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka Belitung yang mencatat inflasi lebih rendah.
Lebih lanjut, Rony menerangkan bahwa inflasi tahunan Kepri juga lebih rendah dibandingkan dengan inflasi di tingkat Sumatera yang tercatat 3,04% (yoy) dan inflasi nasional berada di angka 2,31% (yoy). Ini menjadi indikasi positif bagi stabilitas ekonomi daerah.
Penting untuk dicatat bahwa faktor pengeluaran sangat mempengaruhi inflasi yang terjadi. Di bulan Agustus 2025, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi yang tercatat 0,83% (mtm), memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan.
Penyebab Kenaikan Harga Pangan dan Inflasi
Kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai merah, bawang merah, daging ayam, buncis, dan lainnya sangat mempengaruhi inflasi. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pasokan di tengah tingginya permintaan serta kendala dalam distribusi komoditas tersebut.
Di samping itu, sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi, yang mencatatkan angka 0,31% (mtm). Kontribusi dari kelompok ini terhadap inflasi bulanan adalah 0,02%, menunjukkan bahwa beberapa elemen jasa juga memiliki dampak terhadap kenaikan umum harga.
Meskipun ada kenaikan di beberapa sektor, sektor transportasi justru mengalami deflasi sebesar 0,74% (mtm). Hal ini diakibatkan oleh promo tarif angkutan udara yang diberlakukan menjelang perayaan tertentu, sehingga memberikan dampak positif terhadap inflasi secara keseluruhan.
Koordinasi dalam Pengendalian Inflasi di Kepri
Terkendalinya inflasi di Kepri tidak terlepas dari kerja sama yang baik antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Di level provinsi maupun kabupaten/kota, mereka melakukan koordinasi yang intensif untuk memastikan bahwa inflasi tetap berada dalam batas yang dapat dikendalikan.
Bank Indonesia secara berkelanjutan berkolaborasi dengan TPID di seluruh Kepri dalam melaksanakan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan. Strategi pengendalian ini berfokus pada empat aspek penting, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Beberapa langkah konkret yang diambil untuk stabilisasi harga termasuk rapat koordinasi daerah yang melibatkan TPID dan TP2DD, publikasi iklan layanan masyarakat, serta edukasi mengenai inflasi melalui program-program yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Hal ini penting untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali di kalangan masyarakat.
Outlook Inflasi dan Upaya Pengendalian ke Depan
Menjelang bulan September 2025, terdapat beberapa faktor yang harus diwaspadai sebagai pendorong inflasi. Di antaranya adalah fluktuasi harga emas perhiasan dan penyesuaian harga pangan dari daerah penghasil, termasuk dampak dari regulasi pengiriman barang konsumsi yang terus diperketat.
Meskipun ada potensi inflasi yang meningkat, terdapat juga sejumlah faktor yang dapat menahan inflasi. Musim panen beberapa komoditas hortikultura diharapkan dapat membantu meningkatkan pasokan, sementara tren penurunan harga minyak dunia juga bisa berkontribusi dalam pengendalian inflasi kedepan.
Bank Indonesia bersama TPID berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas inflasi di Kepri. Melalui peningkatan produksi pangan, pasar murah, serta koordinasi pengendalian inflasi yang lebih kuat, diharapkan tingkat inflasi tetap terjaga di dalam rentang sasaran yang ditetapkan.















